0
Broken Home
Posted by Unknown
on
05.40
Kisah- Hening, malam kian larut, bahkan pagi menjelang.
Hawa dingin sudut kota Tasikmalaya kian menggigit. Senyap, pada sepi yang menelikung hati. Sendiri, dalam gelap.
Terus menarikan jemari di atas keyboard laptop.
Sendiri, ku di sini. Di ruang yang mengingatkan ku akan sejarah, kucoba kembali susun kepingan hati yang terserak, menyusunnya dengan penuh kehati-hatian agar tak ada celah setan menyusup..
Perlahan, ku obati luka atas goresan yang tersayat dalam hati, mengusapnya lembut, dengan sentuhan lantunan dzikir yang mulai terasa getarnya.
Bismillah…
Menjalani hidup sebagai anak korban broken home, tentunya kita tau seperti apa rasanya … tapi bukan ini yang akan aku paparkan dalam tulisan sederhanaku.
Ku sadari, bukan hal mudah menjalani peran sebagai anak korban broken home. Hingga kemudian, saat kaki ini mulai terasa lelah menapak alur skenario hidup,
dalam pemberhentianku di antara terik untuk sejenak mengusap peluh, aku belajar menatap titah hidupku dari perspektif lain, pada sudut pandang yang nampak terang, tanpa bayang kabut yang menghijabi kebeningan hati.
Meskipun,
Broken home menjadikan aku pincang tanpa seorang ayah, buta dan tuli tanpa kesempurnaan cinta seorang ibu.
Tapi…
Broken home mengajariku, tentang bagaimana aku harus memanage konsep ikhlas dalam penerimaan terhadap titahNya. Menerima kehilangan sebagai bentuk proses penempaanku untuk belajar mandiri menghadapi dinamika hidup, tidak terlalu bergantung pada sosok seorang ayah.
Broken home menuntunku untuk semakin mendekat dengan ruang kesabaran dan membuka kesadaranku bahwa keluh tidaklah mampu meringankan beban yang menindih pundak. Hanya dengan mendekat, bercakap dan memohon pada-Nya kedamaian hati itu aku dapat.
Broken home… menjadi penyemangat dalam kesungguhanku menggapai mimpi, terus menanamkan sugesti bahwa kesuksesan tak kan mampu aku genggam tanpa kesungguhan dan tak pernah membiarkan kesemangatan ini meredup, terus menyala dalam pengharapan akan masa depan yang lebih baik.
Broken home menjadi cambuk pelecut, atas pemetaan masa depanku tentang bagaimana aku harus mulai mempersiapkan diri agar kelak keluargaku tak terurai seperti kedua orang tuaku. Menuntunku untuk senantiasa berbenah menjadi manusia berkualitas.
KARENA MENJADI ANAK BROKEN HOME BUKAN ALASAN UNTUK MELEPAS MIMPI-


Posting Komentar